Rabu, 03 Oktober 2012

Selayang Pandang Pemikiran Ilmu Kalam

Disampaikan Pada Diskusi Dasein Institute Pada Kamis 26 Juli 2012

Pendahuluan

Tak bisa dipungkiri macam corak tafsir persoalan yang fundamental keagamaan terjadi di khazanah sejarah Islam. Berbagai aliran teologi bermunculan untuk menggali ajaran-ajaran keagamaan secara mendalam dari persoalan ketuhanan, kenabian, kitab suci, dll. Memang ada yang menanyakan apa perbedaan kalam dan filsafat Islam, sama-sama mengkaji secara filosofis persoalan keagamaan, bahkan secara epistemologis hampir sama yang diapakai dalam kalam dan filsafat islam­ yaitu keterpengaruhan tradisi Hellenistik (filsafat Yunani) dan neo platonisme. Sebagian ada yang menjawab bukan pada ranah epistemologis yang membedakan, akan tetapi pada wilayah tema-tema pembahasan, kalau kalam hanya sekedar pada daerah pokok-pokok keagamaan semisal Tuhan, Kenabian, kitab suci, alam, sebagian pembahasan kemanusiaan, dll, sedangkan filsafat Islam lebih luas lagi bahasannya tidak sekedar basik agama, seperti soal masyarakat, politik, astronomi, lokgika, dll. Dari thurast kalam sebenarnya agama Islam mempunyai dalil yang canggih ketika merasionalkan  persoalan agama, banyak sekali secara detail para mutakallim atau filsuf mencurahkan pada soal ini, sehingga keimanan umat muslim tidak sekedar pada sebatas keyakinan, tetapi sudah secara metodologis terilmiahkan secara dalil-dalil rasional.
Kalam di sejarah khazanah Islam rupanya telah tereduksi, yang dulunya dalil-dalil rasioanal ini secara dinamis dikaji mendalam, kemudian dalam perjalanannya telah menjadi seperti dogma seperti ajaran agama yang baku, percecokan dan perlisihan yang tajam antar lintas aliran kalam menambah stagnannya kalam ini, karena setiap pemeluk aliran ingin mempertahankan pendapat alirannya sendiri, ditambah perselisihan aliran kalam diiringi “celupan” politis menambah sengit pertentangan setiap aliran kalam, bahkan mungkin bisa memvonis seorang bid’ah dan malah kafir ketika diluar aliran teologinya. Inilah yang disebut oleh Muhammed Arkoun dengan taqdisul afkar ad-diniyah (pengkudusan pemikiran keagamaan) sebagai fase pengkristalan produk peradaban dalam sejarah Islam. Tak terelakkan lagi pada pembahasan ketuhanan, karena bab ini merupakan hal yang pokok dalam membahas teologi. Sebagaimana yang kita ketahui seluruh umat muslim, bahkan para mutakallim pun sepakat, bahwa Allah SWT itu ada dan Maha Esa, tidak ada yang menyamainya, Maha dari segalanya, tapi bagaimana menggambarkan Allah itu yang menjadi perbedaaan, bagaimana dzat Allah itu, apakah sama dzat dan sifat Allah itu, dalam Al-Qur’an menyebutkan ada redaksi “tangan Allah”, “wajah Allah”, “kursi-Nya”, dll itu menjadi perbedaan dalam bahasan kalam. Tulisan ini akan membahas sedikit sejarah aliran-aliran kalam serta contohnya yaitu persoalan ketuhanan.

Faktor Munculnya Aliran Kalam

Perjalanan sejarah kalam di peradaban Islam sangatlah panjang, bahkan sampai sekarang kelompok aliran kalam dan perdebatannya masih sering di bicarakan. Semisal kelompok yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah wal jama’ah sampai sekarang masih eksis walaupun tidak tahu mana yang secara pasti Ahlus sunnah itu semisal contoh di Indonesia, NU (Nahdlotul Ulama) mengeklaim bahwa mereka itu ahlus sunnah, tapi sisi lain ada kelompok misalnya yang mereka namakan Salafi juga menegaskan mereka ahlus sunnah. Aliran lain selain ahlus sunnah misalnya Syi’ah juga masih bertahan.
Ada beberapa yang pokok mengapa munculnya aliran teologi Islam atau kalam :
1.      Faktor perbedaan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi.
Al-Qur’an dan hadis merupakan salah satu masdar nidzamil ma’rafi (sumber epistemologi) pengetahuan umat Islam, tidak sekedar masalah keagamaan saja tapi secara luas al-Qur’an membahas tentang semua kehidupan ini. Sebagaimana yang diterangkan diatas hal-hal pokok dalam pembahasan kalam seperti Allah yang Maha Esa, dll semua ahli kalam sepakat, tapi bagaimana menggambarkan eksistensi Allah itu yang membuat perbedaan penafsiran. Dalam pembahasan ayat-ayat teologi ada tiga pendekatan dan inilah nantinya munculnya aliran-aliran kalam dalam Islam. Ada sebgain umat Islam yang menggunakan makna teks al-Qur’an dan hadis dengan melakukan interpretasi dengan teks sebanding (bil ma’stur atau bi al-riwayah). Ada juga yang menggunakan nalar (bi ar-ra’yi). Pada cara kedua ini juga terjadi perbedaan-perbedaan cara pendekatan, ada yang menggunakan analogi (qiyas) secara absolut dan ada juga yang secara terbatas. Disamping cara tersebut ada pemikir yang menangguhkan penggunaan interpretasi jika isyarat teks sudah cukup memberikan pengertian yang masuk akal (Aminullah : 2004, 5).
2.      Pengaruh Khazanah Pemikiran Luar Agama Islam.
Pertanyaan-pertanyaan/persoalan kalam sudah dipermasalahkan pada era Khulafaur Rosyidin. Pada masa Nabi Muhammad masih hidup relatif tidak ada persoalan-persoalan ini, karena pemegang otoritas yang menjawab hal-hal keagamaan masih hidup yaitu Nabi Muhammad, juga karena beliau selalu dibimbing oleh wahyu, ketika ada pertanyaan dari umat Islam yang susah dijawab oleh Nabi, maka wahyu akan turun menjelaskan persoalan yang dihadapi umat. Setelah Nabi meninggal digantikan oleh empat sahabat Nabi, wilayah umat muslim semakin luas, sampai belahan barat yaitu mesir dan belahan timur yaitu Persia. Dari perluasan wilayah ini umat muslim menemui berbagai tradisi, kebudayaan, dan agama yang berbeda juga sebagian memeluk agama Islam yang dahulunya dari penganut agama lain setelah ekspansi pasukan muslim mereka masuk Islam, mereka ada yang memahami agama Islam dengan keterpengaruhan tradisi, kebudayaan, atau mungkin dengan pemahaman agama yang sebelum mereka anut. Dari keterpengaruhan ini, maka pemahaman sebagian umat muslim menjadi berbeda dengan pemahaman umat islam ketika Nabi Muhammad masih hidup.
Misalnya pada masa daulah Umayah sudah ada golongan jahmiyah yang dipelopori oleh Jaham bin Shafwan yang beranggapan bahwa harus meniadakan qudrat dan iradat manusia, agar Allah tidak mempunyai sekutu dalam perbuatanNya dan meniadakan pula sifat-sifat Allah (Hasbi : 1972, 18).
3.   Faktor kekuasaan atau politik.
Faktor ini bisa menjadi dua kemungkinan, yang pertama perbedaan dalam masalah-masalah teologi sudah ada sejak awalnya, bermulai dari perbedaan yang tajam antara kelompok satu dengan lainnya kemudian faktor politik menunggangi kemudian perselisihan semakin tajam bahkan sampai mengkafirkan orang yang diluar kelompoknya. Kedua, bukan berawal dari masalah teologi, tapi murni masalah kekuasaan atau politik, dari perebutan kekuasaan atau konflik politik kemuadian membuat tafsiran-tafsiran agama sebagai legitimasi suatu kelompok tersebut untuk bertindak, maka ini masalah politik yang dibalut dengan persoalan agama.
Secara pribadi belum tahu secara pasti mana dari ketiga faktor ini yang paling dominan, tapi tiga faktor ini adalah faktor utama yang sering dianut dalam buku-buku pengantar ilmu kalam. Menurut pribadi juga tiga faktor ini berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya, tidak bisa berdiri sendiri, mengapa ?, karena melihat sejarah lahirnya ilmu kalam tiga faktor ini baru “trend” dalam perkembangan agama Islam pada saat itu.

Aliran-Aliran Kalam
            Sebelum saya mejelaskan macam-macam aliran kalam dalam Islam, kita akan membahas dulu tentang arti kalam, kemudian menjelaskan perbedaan dan persamaan dari ushuluddin, akidah, ilmu tauhid, karena secara objek material hampir sama dengan kajian ilmu kalam atau mingkin semuanya sama hanya peristilahan.
      Selain dinamai ilmu kalam, ilmu ini juga dinamai ilmu aqaid, ilmu tawhid, ilmu ushuluddin, dan al-fiqh al-akbar. Dinamakan ilmu kalam, ada yang mengatakan, bahwa penamaan itu dilandasi kenyataan historis, bahwa persoalan yang mula-mula dibahas dalam lapangan ketuhanan adalah masalah firman Tuhan. Alasan lain yakni adanya pernyataan yang menyebutkan bahwa di dalam perdebatan menggunakan ucapan (kalam) sebagai alat, maka seni dalam perdebatan itu dinamakan ilmu kalam, yang berarti ilmu tentang perdebatan atau seni adu kata-kata. Selain itu ada yang mengatakan, karena dalam pembahasan bidang-bidang persoalan ilmu tersebut pada buku-buku yang membicarakan masalah-masalah kalam di dahului dengan kata “al-kalam fi” atau “bab kalam” di awal bab, seperti yang digunakan oleh Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya al-ibanah ‘an Ushul al-diyanah (Aminullah : 2004, 62). Tidak ada kesepakatan diantara para sarjana tentang asal muasal kata ilmu kalam ini muncul.
      Memasuki bahasan sejarah aliran kalam dalalm Islam, tidak akan mengupas semua aliran kalam, karena banyak sekali kelompok yang lahir dalm perdebatan masalah teologi ini. Belum lagi satu aliran pasti akan terpecah dalam beberapa kelompok lagi, dalam kitabnya As-Syahrastani al-milal wa nihal cukup memperlihatkan banyaknya kelompok keagamaan dalm agama Islam, maka saya akan membahas tiga aliran kalam besar yang merepresentasikan aliran-aliran kalam, yaitu Mu’tazilah, Al-Asy’ariyah, dan Al-matrudiyah. 

Mu’tazilah
            Banyak literatur yang menyatakan bahwa, kelompok Mu’tazilah ini lahir ketika pertentangan di forum kajian seorang ulama/tabi’in yaitu Hasan al-Bashri dan Washil bin Atha’ tentang posisi seorang mukmin yang melakukan dosa besar, Hasan al-Bashri mengatakan orang yang melakukan perbuatan dosa besar tetap seorang mukmin, sedengkan Washil bin Atha’ berpendapat orang yang melakukan perbuatan dosa besar tidak mukmin juga tidak kafir, Washil bin Atha ini dinamailah i’tizala (memisahkan diri) dari kelompok Hasan al-Bashri, kemudian menjadi nama kelompok yang disebut Mu’tazilah dan menjadi doktrin utama yaitu al-mazilah baina al-manzilatain.
            Menurut Fazlur Rahman mengutip pendapat orientalis, bahwa banyak oerientalis yang mengingkari faktor lahir kelompok Mu’tazilah seperti cerita di atas. Menurut Goldziher berpendapat asal muasal nama Mu’tazilah dari akar bahasa Arab berarti “absen dari”, “menjadi seorang yang Netral”, dan “berada disini” yang menunjuk kepada sifat mereka yang saleh dan tidak suka ikut campur dalam pertentangan-pertentangan pendapat. Jadi, pada asalnya, kaum Mu’tazilah bukanlah “pemikir-pemikir bebas” seperti yang sering dikatakan orang-orang. Pada munculnya kelompok Mu’tazilah mereka kelompok yang soleh dan wara’ , mereka kelompok unsur-unsur pemikir masyarakat adalah netralis-netralis dari politik, kaum Mu’tazilah (termasuk pemimpin-pemimpinnya) adalah pro Ali, walaupun sebagian dari mereka tidak memihak kepada siapa pun dalam perang saudara yang paling awal (konflik masalah pembunuhan Ustman bin Affan sampai konflik Ali dengan Muawwiyah) (Rahman : 2010, 120).
            Mereka pada awalnya bukan pula rasionalis-rasionalis murni (walaupun mereka mengeklaim, bahwa akal adalah sumber kebenaran moral yang sama derajatnya dengan wahyu). Pada saat itu juga malah sebenarnya kaum Mu’tazilah melakukan perjuangan yang sengit untuk membela Islam dari serangan-serangan manikeanisme, gnostisisme, dan materialisme. Dalam berbuat demikian, mereka perlu menghasilkan ajaran yang dipikirkan secara sistematis bagi Islam. Tapi mereka melangkah jauh keluar batas-batas yang dapat diterima dari ajaran Islam. Setelah bahaya dari luar dapat diatasi, mereka berjuang dalam Islam pada dua doktrin kembar “keadilan dan kesatuan Tuhan”, dimana mereka semakin menunjukkan diri sebagai pembela-pembela rasionalisme Hellenistik yang kaku dan tidak toleran (Rahman : 2010, 122).
            Kemudian inilah beberapa contoh ajaran pokok dari kelompok Mu’tazilah, pertama tentang keesaan Tuhan, Mu’tazilah terkenal dengan pendeklarasian, bahwa dirinya ialah kelompok ahlut tauhid wa ahlul adl, sama seperti kelompok kalam lainnya, bahwa mereka berpendirian soal teori tamanu yaitu tidak ada mungkin ada dua pencipta untuk satu ciptaan dan tidak mungkin ada dua Tuhan untuk satu alam, sebab jika demikian adanya berarti kedua-duanya atau salah satu itu “lemah”. Jika salah satu menghendaki kehidupan makhluk sedangkan lainnya menghendaki kematian sekaligus bersamaan, maka tidak mungkin dapat terpenuhi secara sempurna. Logikanya adalah karena tidak mungkin tubuh makhluk itu dapa hidup dan mati sekaligus dalam satu waktu. Jika demikian berarti mereka lemah dan yang lemah itu pastilah bukan Tuhan.
            Dalam pandangan Mu’tazilah, prinsip keesaan itu sebagai “membebaskan Allah dari segala macam sifat makhluk” secara mutlak. Untuk menegaskan pendirian tersebut, golongan ini tampil dengan nafyu al-shifat (menegasikan sifat-sifat). Pandangan Mu’tazilah ini sebagai penolakan terhadap golongan-golongan lain yang dinilai mencemari hakekat keesaan Allah. Mereka mengatakan bhawa Allah sama sekali tak tergambarkan dengan apa pun dan dengan cara bagaimana pun (Aminullah : 2004, 93).
            Kedua tentang takdir, menurut mereka Allah adalah Hakim yang adil, karenanya tidak mungkin dapat disandarkan kepadaNya keburukan dan kezaliman, tidak mungkin Allah menghendaki dari manusia sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diperintahkanNya. Mustahil Allah menyiksa manusia terhadap perbuatan yang bukan dari manusia sendiri. Karena itulah manusia yang melakukan perbuatan sendiri, perbuatan baik dan buruk, perbuatan maksiat dan kekafiran, dll. Manusia akan menerima akibat perbuatan zalim, maka mustahil kalau terjadi Allah memerintahkan manusia melakukan sesuatu kemudian Allah memerintahkan manusia melakukan perbuatannya (Syahrastani : 2006, 40).  

Al-Asy’ariyah
            Sejarah kemunculan al-Asy’ariyah berawal dari seorang pendiri kelompok ini Abu Hasan Asy-Asy’ari yang memisahkan dari gurunya dan kelompok Mu’tazilah, al-Juba’i dalam mempertahankan pendapatnya bahwa keadilan Tuhan itu tidak dapat ditentukan dalam batasan-batasan manusia. Perumusan ajaran Asy’ariyah pada intinya menyuguhkan suatu usaha untuk membuat sintesa pandangan antara pandangan “ortodoks” yang pada saat itu belum terumuskan dengan pandangan Mu’tazilah (Rahman : 2010, 126).
            Dan ini beberapa tema pokok pembahasan kalamyang menjadi branding kelompok Asy’ariyah, yang terkenal tentang ide perbuatan manusia, hahekatnya perbuatan manusia terjadi melalui kasb, dan kasb itu pada hahekatnya tidak berasal dari manusia, tapi diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu pelaku perbuatan itu sesungguhnya adalah Allah, maka Asy’ariyah berprinsip la fa’ila lahu illa Allah dan la khaliqa illa Allah. Dengan kata lain, meskipun manusia melakukan kasb (usaha), namun pelaku sesungguhnya adalah Allah. Pada sisi lain juga asy’ari menyebut perbuatan yang dilakukan manusia sebagai harakah idhthirar (gerak yang tidak sengaja) menurutnya ada dua di dalam harakah idhthirar ini, yaitu pembuat yang membuat gerak dan badan yang bergerak. Asy’ari juga membedakan antara harakah idhthirar dan kasb. Pada yang pertama manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tak terelakkan waktu dengan usaha, namun pada yang kedua tidak ada paksaan. Dia mencontohkan, seorang yang anggota badannya bergerak-gerak karena menggigil akibat terserang demam, maka geraknya ialah “suatu keterpaksaan”, sedangkan gerak orang yang mondar mandir atau datang dan pergi bukanlah suatu keterpaksaan (Aminullah : 2004, 120).

Maturidiyah
            Kelompok maturidiyah diprakarsai oleh seorang Muhammad bin Muhammad Abu Munsur Al-Matrudi pada tahun pertama 4 H di Samarkand. Aliran ini sebenarnya tidak jauh beda dengan aliran As’ariyah, kedua dilahirkan dari kondisi dan pemikiran yang sama. Kedua datang untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang menyerukan untuk menyelamatkan dari ekstrimitas rasionalis dimana yang berada di garis depan adalah Mu’tazilah, maupun kaum tekstualis yang dipelopori oleh kaum hambaliyah. Pada awalnya kedua aliran ini dibatasi oleh jarak. Aliran Asy’ariyah berkembang di Irak dan Syam sampai Mesir, sedangkan aliran maturidiyah di daerah Samarqand dan di seberang sungai Oxus. Dan juga dua aliran ini didukung oleh dua aliran fiqih, Hanafiyah membentengi aliran maturidiyah bahkan mereka anggap aliran ini berakar dari Imam Hanafi. Sedangkan aliran Asy’ariyah lebih didukung oleh mazhab Syafi’iyah.
            Pada perjalanannya kelompok Maturidiyah yang berada di Samarkand lebih dekat dengan Mu’tazilah, kemudian seorang yang bernama Abu Al-Yusr Muhammad Bazdawi pengikut al-Matrudi mengkritik Maturidiyah yang berada di Samarkand tentang posisi akal dalam memahami wahyu yaitu menurut Maturidiyah Samarkand 1). Akal dapat mengetahui adanya Allah, 2). Akal dapat mengetahui kewajiban Allah, 3). Akal dapat mengetahui hal baik dan buruk. Kemudian aliran Maturidiyah berpendapat bahwa “akal hanya dapat mengetahui Tuhan, tapi akal tidak dapat mengetahui kewajiban untuk mengetahui Tuhan”, lahirlah kelompok Maturidiyah Bhukara yang dipelopori oleh Bazdawi.
            Dalam hal-hal pembahasan kalam kelompuk Maturidiyah beberapa pendapatnya sama dengan Mu’tazilah seperti tentang antropomorfisme. Mereka tidak sependapat dengan Asy’ariyah tentang ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk tidak bisa dita’wil atau juga sependapat dengan Mu’tazilah tentang perbuatan manusia, bahwa manusialah yang menentukan perbuatan-perbuatannya tidak seperti Asy’ariyah dengan kasb dan paham aliran Jabariyah (Yusuf : 2010, 7-8).
            Sisi lain aliaran Maturidiyah juga sependapat dengan paham Asy’ariyah misalnya persoalan perbuatan seorang muslim ketika melakukan dosa besar, seperti Asy’ariyah ia tetap muslim.

Persoalan Ketuhanan Dalam Pandangan Aliran Kalam (Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah)

Dzat dan Sifat Tuhan
            Dzat dalam bahasa Arab berarti hahekat, jika dikatakan “sesuatu” maka artinya adalah inti dan hakekat. Menurut Jurjani ada padanan kata lain dari kata dzat yaitu syakhsh, akan tetapi dzat lebih umum karena bisa berarti jisim atau lainnya, sedangkan syakhsh hanya pada jisim saja. Dalam terminologi filsafat kata “dzat” berarti hakekat wujud. Dalam konteks tema metafisika kata dzat berkaitan dengan hal-hal ketuhanan.
            Di dalam pembahasan mutakallimin ada yang berpandangan berbeda soal dzat dan sifat ini, ada yang menyatakan bahwa sifat tersebut melekat atau menyatu pada dzat, dan pandangan lain bahwa dzat adalah “sesuatu” dan sifat adalah “sesuatu yang lain”
            Menurut Mu’tazilah menyatakan bahwa apa yang dinamai “sifat” itu tidak dapat dengan sendirinya dikatakan bahwa Allah mempunyai sifat. Karena jika dikatakan Allah mempunyai sifat-sifat, sementara jika sifat-sifat itu ada pasti qadim, maka dalam pandangan Mu’tazilah pandangan ini dinilai merusak kemurnian tauhid Allah, sebab pandangan demikian ini mengakui adanya Allah qadim dan sifat-sifatnya juga qadim, sehingga ada persekutuan yang qadim. Hal ini tidak boleh dalam ajaran tauhid, karena yang qadim itu hanya Allah dan selainNya adalah baru (hadist). Berarti Allah tidak mempunyai sifat-sifat seperti pengetahuan, kekuasaan, penglihatan, kehidupan, keabadian, kelompok Mu’tazilah ini sering dijuluki Mu’aththilah atau nafyu sifat (golongan yang menafikan sifat-sifat dzat Allah).
            Berbeda dengan Mu’tazilah, Asy’ariyah mengatakan bahwa Tuhan juga mempunyai sifat karena berdasarkan pada info dari ayat al-Qur’an seperti itu. Menurut Ghazali sifat Allah adalah memang bukanlah dzat Tuhan, tapi terwujud dalam  dzat itu sendiri. Kaum Asy’ariyah kemudian merumuskan “sifat-sifat itu bukan Tuhan tapi bukan pula lain dari Tuhan” (la hiya huwa wa la hiya ghairuhu). Bukan sifat-sifat tersebut dalam pengertian “keadaan” yang mengandung arti berubah. Mereka menandaskan bahwa sifat Allah itu kekal/qadim, bukan keadaan yang berubah-ubah.
            Hampir sama dengan kelompok Asy’ariyah, aliran Maturidiyah menyatakan bahwa Allah itu berkuasa (qadir), mengetahui (alim), hidup (hayy), mulia (karim), dll. Hal itu merupakan suatu kebenaran, karena secara radaksional wahyu diterangkan seperti itu, walaupun ada golongan yang menganggap keserupaan nama-nama sifat antara Tuhan dan makhluknya (seperti kaum Musyabbihah), nama-nama yang diperuntukkan bagi Allah nama yang Dia sendiri menyebut untuk dzatNya sendiri dan sifat-sifatNya yang disandang adalah Dia sendiri menyifatkan untuk dzatNya, tapi sifat-sifat Tuhan itu kekal melalui kekekalan dzat Tuhan, bukan dengan tidak ada sifat yang kekal dengan sendirinya.

Antropomorfisme dan Tanzih
            Dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak menyinggung penggambaran Tuhan seperti mempunyai bentuk manusia, seperti “kursi Allah”, “singgasana Allah”, “wajah Allah”, “tangan Allah”, dll. Ayat-ayat ini pada keyataannya membawa perbedaan penafsiran yang mengarah pada apakah ayat-ayat itu perlu ditakwil atau memahami dengan secara literalis.
            Ini berdampak pada perbadaan pendapat antar kelompok aliran kalam, golongan Mu’tazilah secara tegas menolak menyerupakan Allah dengan makhluknya, karena Mu’tazilah menganggap Allah adalah dzat yang bukan materi, dan karena itu tidak dapat dikatakan bahwa ia mempunyai sifat-sifat seperti manusia. Menurut seorang tokoh Mu’tazilah bahwa Tuhan tidak dapat mempunyai badan materi dan karena itu Ia tidak punya sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan bahwa Tuhan mempunyai sifat jasmani haruslah diberi interpretasi lain (ta’wil).
            Kalau menurut Asy’ariyah juga tidak menerima antropomorfisme dalam arti bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani yang sama dengan sifat-sifat jasmani manusia. Kendati demikian Asy’ariyah tetap mengatakan Tuhan mempunyai mata, muka, tangan, dll karena al-Qur’an menyebutkan demikian. Tapi sifat-sifat jasmani tersebut tidak sama dengan yang dimiliki oleh manusia. Tuhan mempunyai dua tangan tetapi tangan itu tidak boleh diartikan selain tangan misalnya nikmat atau kekuasaan. Ia mempunyai mata bukan berarti ia memiliki seperti manusia dan tidak boleh diartikan selain tangan misalnya pengawasan atau yang lain.
            Sementara Maturidiyah mempunyai pendapat sama dengan golongan Mu’tazilah ayat-ayat yang berkenaan tentanga penggambaran Tuhan yang menyerupai bentuk makhluk perlu dita’wil, karena apabila tetap menafsirkan dengan literal, maka terasosiakan Tuhan berbentuk makhluk. Juga karena Tuhan terlepas dari jawhar (subtansi) dan ardh (aksiden). Manusia butuh anggota badan, tanpa anggota badan, manusia mejadi lemah, sedagkan Tuhan tanpa anggota badan tetap Maha Kuasa.

Perbuatan Tuhan dan Mnausia
            Tentang perbuatan Mu’tazilah berpendapat secara potensial manusia telah mempunyai instrumen untuk menentukan pilihan yaitu akal. Bagi mereka akal merupakan dasar unutk menentukan standar nilai perbuatan sebelum wahyu datang, karena ia dapat membedakan mna baik dan buruk dan ketika wahyu datang agama maka ia menjadi diperkuat lagi.
            Golongan mu’tazilah dikenal sebagai penganut paham Qadariyah, yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan menentukan pilihan dalam perbuatan. Menurut Al-Qadhi Abd al-jabbar menyebutkan bahwa manusia bertanggungjawab atas perbuatannya, karena itu berlaku pembedaan antara pelaku kebaikan dan pelaku kejahatan. Dalam pandangan kaum Mu’tazilah perbuatan manusia sepenuhnya berasal dari manusia sendiri, sebagaimana potensi dan kehendak unutk berbuat adalah berasal dari dirinya sendiri dan tidak ada intervensi Tuhan dalam bentuk potensi dan kehendak untuk berbuat. Dengan demikian hakikat perbuatan itu adalah perbuatannya dirinya sendiri, bukan perbuatan Tuhan.
            Asy’ariyah berpendapat kebalikannya dari kaum Mu’tazilah sebagaiaman dijelaskan diatas, pada kesimpulan bahwa manusia itu hakikatnya adalah harakah al-idthirar (gerak yang tak sengaja). Dalam gerak tersebut bahwa Allah adalah pelaku bagi gerak tersebut tapi bukan  Allah yang bergerak, karena hakikat pelakunya adalah pembuat gerak itu dan manusia dapat dikatakan sebagai bukan sebagai pelaku sesungguhnya. Sama seperti Mu’tazilah golongan Maturidiyah bahwa hakikatnya perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri.

Firman Allah
            Pada masa al-Makmun khalifah daulah Abbasiyah terjadi peristiwa mihnah, peristiwa yang terjadi pemaksaan pendapat kepada umat muslim bahwa al-Qur’an itu makhluk, maka terjadilah serangkaian hukuman kepada orang-orang yang tidak berpendapat al-Qur’an itu makhluk seperti Ahmad bin Hambal.
            Pada saat itu khalifah al-Makmun berpendirian seperti kaum Mu’tazilah bahwa al-Qur’an itu mahkluk, karena sabda Tuhan itu bukanlah qadim tapi hadits dan diciptakan (makhluq), karena al-Qur’an itu tersusun dari bagian-bagian (berupa ayat dan surat) dan bagian itu yang satu mendahului bagian lain. Adanya sifat dahulu dan kemudian pada bagian-bagian al-Qur’an, membuat al-Qur’an tidak bisa bersifat qadim karena qadim tidak didahului oleh siapa pun.
            Sementara Asy’ariyah mempertahankan bahwa al-Qur’an itu qadim dan bukan makhluk, menurut Asya’ari jika Al-Qur’an itu adalah makhluk maka ia merupakan bagian dari kata syay’dalam ayat tersebut. Dan jika demikian adanya, maka diperlukan kata “kun” terlebih dahulu bagi adanya al-Qur’an dan diperlukan kata “kun” lain lebih dahulu unutk mendatangkan kata “kun” tersebut. Hal demikian tidak mungkin karena akan terjadi rangkaian kata “kun” yang tak berkesudahan.
            Kaum Asy’ariyah berpandangan juga bahwa firman Allah adalah sifat, bukan perbuatan bagiNya dan sifat bukanlah makhluk dank arena itu firman Tuhan itu qadim.
            Sedangkan kaum Maturidiyah mengatakan bahwa sabda Tuhan adalah qadim. Al-Qur’an bersifat qadim yang berasal dari Tuhan. Al-Qur’an itu satu tidak terbagi, tidak berbahasa Arab atau Suryani, tapi diucapkan manusia dalam ungkapan yang berbeda. Al-Bazdawi menyatakan bahwa apa yang tersusun dan dinamakan al-Qur’an hanyalah dalam arti kiasan (majazi) (Syafe’i : 2003, 110).

Penutup
            Itulah perdebatan dalam ilmu kalam yang membahas ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam terkhusus mengenai soal ketuhanan. Tak heran sarjana Barat dan juga Fazlur Rahman menamai ilmu kalam ini dengan teologi dialektik. Bagi saya pribadi tidak setuju apabila ada sarjana yang mengatakan perdebatan dalam kalam ini tidak bermanfaat seperti berkubang ditempat tidak bisa keluar, karena secara teologis agama Islam bisa dikatakan dinamis sampai hal ajaran yang fundamental bisa diperdebatkan, tidak seperti sebagian agama yang sangat mempagari ajaran “ortodoksnya”.
     Yang perlu diperhatikalan adalah perlunya revitalisasi ajaran kalam ini agar lebih segar untuk zaman sekarang. Kita bisa lihat perdebatan kalam akhirnya hanya terhenti pada posisi ideologis menjadi stagnan. Perlu pembaharuan ilmu kalam agar bisa menjadi dinamis lagi.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar